ILMU
BUDAYA DASAR
(Manusia dan keindahan)
Nama :
Aziz Sudrajat ( 56413759 )
Kelas
: 1IA12
UNIVERSITAS
GUNADARMA
BAB
1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Keindahan,
kesejukan, kehalusan dan keserasian setiap hari di rasakan oleh manusia
keindahan itu bisa didapatkan secara langsung ataupun melalui media.Untuk bisa
melihat dan menikmati keindahan orang sering membuang waktu, uang dan tenaga
yang tidak sedikit jumlahnya. Orang pergi ketempat yang indah karena orang
senang dengan keindahan. Ada suatu kecenderungan, semakin tinggi tingkat
pengetahuan seseorang, semakin tinggi pula hasrat dan keinginan untuk
menghargai suatu keindahan.
Keindahan/seni dibutuhkan
oleh setiap manusia agar kehidupan yang dijalaninya menjadi indah sentosa.
Manusia dan keindahan/seni memang tak bisa dipisahkan sehingga diperlukan
pelestarian bentuk keindahan yang dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian
(seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya manjadi bagian
dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur
politik.
Keindahan
hanya ada pada pikiran orang yang menerangkannya dan setiap pikiran melihat
suatu keindahan yang berbeda-benda. Para seniman romantik umumnya berpendapat
bahwa keindahan sesungguhnya tercipta dari tidak adanya keteraturan, yakni
tersusun dari daya hidup, penggambaran, pelimpahan dan pengungkapan perasaan.
Karena itu tidak mungkindisusun teori umum tentang keindahan.
Dalam
hal ini Indonesia sebagai negara yang baru berkembang dalam hal kesenian
mendapat prestasi tersendiri dimata negara luar seperti Malaysia dan Singapura.
Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya group-group musik yang musiknya
diterima disana sehingga sering mewakili Indonesia untuk ajang musik se-Asia.
Hal tersebut perlu menjadi perhatian Pemerintah Indonesia dimana seniman yang
benar-benar berkesenian sesuai dengan norma-norma ketimuran tanpa mengindahkan
teknologi modern perlu diletakkan pada kelas tersendi sehingga tak kehilangan
arah bila bila ia ‘dirasuki’ paham-paham dari luar seperti dimanfaatkan oleh
kaum Kapitalis yang hanya mengejar keuntungan materi semata tapi mengacuhkan
nilai-nilai yang ditimbulkan sehingga seniman-seniman seperti Chairil Anwar,
Affandi dan lain sebagainya tetap muncul dan mampu menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia dimata
negara lain tanpa harus kehilangan nilai ketimurannya
BAB
2
MANUSIA
DAN KEINDAHAN
1.
KEINDAHAN
Sebenarnya
sulit bagi kita untuk menyatakan apakah keindahan itu. Keindahan itu suatu
konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu
baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu
karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan
dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan dapat berkomunikasi. Jadi,
sulit bagi kita jika berbicara mengenai keindahan, tetapi jelas bagi kita jika
berbicara mengenai sesuatu yang indah. Keindahan hanya sebuah konsep, yang baru
berkomunikasi setelah mempunyai bentuk, misalnya lukisan, pemandangan alam,
tubuh yang molek, film, nyanyian.
Keindahan berasal dari kata indah yang
berarti bagus, cantik, elok dan molek. Keindahan identik dengan kebenaran
segala yang indah itu selalu mengandung kebenaran. Walaupun kelihatanya indah
tapi tidak mengandung kebenaran maka hal itu pada prinsipnya tidak indah.
Keindahan yang bersifat universal, yaitu keindahan yang tak terikat oleh selera
perorangan, waktu, tempat atau daerah tertentu. Ia bersipat menyeluruh. Segala
sesuatu yang mempunyai sifat indah antara lain segala hasil seni, pemandangan
alam, manusia dengan segala anggota tubuhnya dan lain sebagainya. Dalam bahasa
Latin, keindahan diterjemahkan dari kata “bellum”
Akar katanya adalah “benum”
yang berarti kebaikan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata “beatiful”, Prancis “beao” sedangkan Italy dan
Spanyol ”beloo”.
Dalam arti luas meliputi keindahan
hasil seni, alam, moral dan intelektual. Dan dalam arti estetik mencangkup
pengalaman estetik seseorang dalam hubunganya dengan hubunganya dengan segala
sesuatu yang diserapnnya. Sedangkan dalam arti terbatas kindahan sangat
berkaitan dengan keindahan bentuk dan warna.
Sesungguhnya
keindahan itu memang merupakan suatu persoalan filsafati yang jawabannya
beraneka ragam. Salah satu jawaban mencari ciri-ciri umum yang ada pada semua
benda yang dianggap indah dan kemudian menyamakan ciri-ciri atau kwalita hakiki
itu dengan pengertian keindahan. Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah
kwalita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kwalita yang paling sering
disebut adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan
(symmetry), keseimbangan (balance) dan perlawanan (contrast).
2.
MANUSIA DAN KEINDAHAN
manusia,
martabat manusia, Manusia dan keindahan memang tak bisa dipisahkan sehingga
diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang dituangkan dalam berbagai bentuk
kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya manjadi
bagian dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas
dari unsur politik. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas
keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi,
sosial, dan budaya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan
merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran
adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai
daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak
indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak
benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran
menurut konsep seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna
sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
Manusia menikmati keindahan berarti
manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman keindahan biasanya
bersifat terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas
pada dua bidang tersebut
keindahan tersebut pada dasarnya adalah
almiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan
tidak kurang. Konsep keindahan itu sendiri sangatlah abstrak ia identik
dengan kebenaran. Batas keindahan akan behenti pada pada sesuatu yang indah dan
bukan pada keindahan itu sendiri. Keindahan mempunyai daya tarik yang
selalu bertambah , sedangkan yang tidak ada unsur keindahanya tidak
mempunyai daya tarik. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang
mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan benda satu dengan
yang lainya. Dengan kata lain imajinasi merupakan proses menghubungkan suatu
benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi . Demikian pula kata indah
diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi,orang yang
menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang –orang yang
saleh merupakan persahabatan yang paling indah.
Jadi
keindahan mempunyai dimensi interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia
dengan benda, manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu
sendiri yang melakukan interaksi.
Pengungkapan
keindahan dalam karya seni didasari oleh motivasi tertentu dan dengan tujuan
tertentu pula. Motivasi itu dapat berupa pengalaman atau kenyataan mengenai
penderitaan hidup manusia, mengenai kemerosotan moral, mengenai perubahan
nilai-nilai dalam masyarakat, mengenai keagungan Tuhan, dan banyak lagi
lainnya. Tujuannya tentu saja dilihat dari segi nilai kehidupan kegunaan bagi manusia
secara kodrati.
Ada
beberapa alasan mengapa manusia menciptakan keindahan, yaitu sebagai berikut:
1)
Tata
nilai yang telah usang
Tata
nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan
keadaan, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan
nilai-nilai kemanusiaan, misalnya kawin paksa, pingitan, derajad wanita lebih
rendah dari derajad laki-laki. Tata nilai semacam ini dipandang sebagai
mengurangi nilai moral kehidupan masyarakat, sehingga dikatakan tidak indah.
Yang tidak indah harus disingkirkan dan digantikan dengan yang indah. Yang
indah ialah tata nilai yang menghargai dan mengangkat martabat manusia,
misalnya wanita. Hal ini menjadi tema para sastrawan zaman Balai Pustaka,
dengan tujuan untuk merubah keadaan dan memperbaiki nasib kaum wanita. Sebagai
contoh novel yang menggambarkan keadaan ini ialah "layar terkembang"
oleh Sutan Takdir Alisyahbana, "Siti Nurbaya" oleh Marah Rusli.
2)
Kemerosotan
Zaman
Keadaan
yang merendahkan derajad dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan
moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan
manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini
dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuan-ketentuan hukum agama, dan moral masyarakat.
Yang demikian itu dikatakan tidak baik, yang tidak baik itu tidak indah. Yang
tidak indah itu harus disingkirkan melalui protes yang antara lain diungkapkan
dalam karya seni. Sebagai contoh ialah karya seni berupa sanjak yang
dikemukakan oleh W.S. Rendra berjudul "Bersatulah Pelacur-pelacur Kota
Jakarta". Di sini pengarang memprotes perbuatan bejad para pejabat, yang
merendahkan derajad wanita dengan mengatakan sebagai inspirasi revolusi, tetapi
tidak lebih dari pelacur.
3)
Penderitaan
Manusia
Banyak
faktor yang membuat manusia itu menderita. Tetapi yang paling menentukan ialah
faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai
akibat nafsu ingin berkuasa, serakah, tidak berhati-hati dan sebagainya.
Keadaan demikian ini tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena
nilai kemanusiaan telah diabaikan, dan dikatakan tidak indah. Yang tidak indah
itu harus dilenyapkan karena tidak bermanfaat bagi kemanusiaan.
4)
Keagungan
Tuhan
Keagungan
Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta
serta kejadian-kejadian alam. Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan
Tuhan. Manusia hanya dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu.
Seindah-indah tiruan terhadap ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan
ciptaan Tuhan itu sendiri. Kecantikan
seorang wanita ciptaan Tuhan membuat
kagum seniman Leonardo da Vinci. Karena itu ia berusaha meniru ciptaan Tuhan
dengan melukis Monalisa sebagai wanita cantik. Lukisan monalisa sangat terkenal
karena menarik dan tidak membosankan.
Keindahan Menurut Pandangan Romantik
Dalam
buku AN Essay on Man (1954), Ems Cassirer mengatakan bahwa arti keindahan tidak
bisa pernah selesai diperdebatkan. Meskipun demikian, kita dapat menggunakan
kata-kata penyair romantik John Keats (1795-1821) sebagai pegangan. Dalam
Endymion dia berkata :
“A thing of beuty is a joy forever
its loveliness iscreases, it wil never
pass into nothingness.”
Dia mengatakan, bahwa sesuatu yang indah
adalah keriangan selama-lamanya, kemolekannya bertambah, dan tidak pernah
berlalu ke ketiadaan. Dari sini kita mengetahui bahwa keindahan hanyalah sebuah
konsep yang bani berkomunikasi setelah mempunyai bentuk. Karena itu dia tidak
berbicara langsung mengenai keindahan, akan tetapi sesuatu yang indah. Dalam
sajak di atas, Keats mengambil bahannya dari Endymion yang terdapat dalam
mitologi Yunani kuno. Endymion dalam mitologi itu sendiri merupakan penjabaran
dari konsep keindahan pada jaman Yunani kuno. Menurut mitologi Yunani ini,
Endymion adalah seorang gembala yang oleh para dewa diberi keindahan abadi. Dia
selalu muda, selamanya tidur, dan tidak pernah diganggu oleh siapapun. Menurut
Keats, orang yang mempunyai konsep keindahan hanya tertentu jumlahnya. Mereka
mempunyai negatif capability, yaitu kemampuan untuk selalu dalam keadaan
ragu-ragu, tidak menentu dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan
tindakannya hanya pikiran dan hatinya yang selalu diliputi keresahan. Mengenai
keindahan, Coleridge mengutip Shakespeare (1564-1616) dalam karyanya midsummer
night: Thing base and vile holding no quality/ love can transpose to form and
dignity", yaitu sesuat yang rendah dan tidak menpunyai nilai, dapat
berubah dan menjadi berarti. Inilah yang menggelisahkan Coleridge. Dia
menggunakan tembakau sebagai contoh: karena kekuatan kebiasaanlah, maka
tembakau yang sebenarnya tidak enak dapat menjadi nikmat. Pembahan ini dapat
mempengaruhi imajinasi: dengan merasakan nikmatnya tembakau maka dalam
angan-angan seseorang, segala sesuatu yang berhubungan dengan tembakau dapat
menjadi indah. Coleridge melihat, bahwa kebiasaan mempunyai akibat terhadap
daya tangkap terhadap sesuatu yang indah, dan karena itu juga dapat
mempengaruhi konsep keindahan seseorang. Kegelisahan Coleridge ini tercermin
dalam "Frost at midnight (1798), sebuah sanjak mengenai salju tipis yang
turun di tengah malam. Salju inilah yang baginya merupakan hal sesaat. Jatuhnya
salju ini mengingatkan Coleridge pada dusunnya yang penuh sesak orang Disini
proses imajinasinya mulai tumbuh. Kemudian keadaan dusun yang penuh sesak im
melompat ingatannya pada masa kanak-kanak, maka terbentuklah konsep keindahan,
disini: kesepihan, kesendirian, dan ketidakberdosaan (innocence) anak kecil
adalah keindahan. Keindahan adalah sublimasi yang terjadi karena kebebasan menyendiri
dan hikmah ketidakberdosaan. Selanjutnya Keats membedakan antara orang biasa
dan seniman, dan antara seniman biasa dan seniman yang baik yang dapat mencipta
sesuatu yang indah menurut dia. Pada sesuatu kesempatan ia melihat lukisan
"Death on the Pale Horse", karya pelukis West, misalnya, yaitu
mengenai seseorang yang mati di atas kuda yang pucat, dia langsung berpendapat
bahwa West bukanlah seniman yang baik. Menurut Keats, West tidak mempunyai
cukup negative capability. Pada hakekatnya negative capability adalah suatu
proses. Keraguan, ketidaktentuan dan misteri adalah suatu proses. Proses inilah
yang membuat seseorang menjadi kreatif. Orang yang tidak mempunyai negative
capability tidak akan kreatif, karena segala sesuatu baginya sudah jelas, tidak
menimbulkan keraguan dan tidak merupakan misteri. Bagi Keats, proses
kreativitas identik dengan perjuangan untuk menciptakan keindahan, atau lebih
tepatnya, menciptakan sesuatu yang indah. Ini terlihat antara lain pada
sanjaknya sendiri, "Endymon", yang mempunyai banyak kesalahan.
Sekalipun dalam sanjak ini dia dapat membuat batasan mengenai sesuatu yang
indah, akan tetapi dia merasa sanjak ini ternyata bukan sanjak yang indah dan
dengan demikian tidak berhasil mengungkapkan keindahan sendiri. Padahal pembaca
sanjak itu segera mempunyai konsensus bahwa Endymon lambang keindahan, meskipun
Keats sendiri sanjak nya gagal. Mengenai burung bul-bul, suatu hari Keats duduk
di kursi malas di bahwah pohon, kemudian tertidur. Beberapa saat terbangun, dan
merasa mendengar suara burung bul-bul. Imajinasinya langsung bekerja, dan
langsung membentuk konsep keindahan. Menulislah ia, bahwa didunia ini
"beauty cannot keep her lustors eyes", yaitu keindahan tidak dapat
menyembunyikan mata yang bersinar-sinar. Ada persamaan hakiki antara J.Keats
dan Coleridge dalam menanggapi hal-hal sesaat. Bagi mereka hal-hal sesaat
adalah pelatuk yang meledakkan imajinasi dan imajinasi ini langsung membentuk
keindahan.
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Keindahan yang bersifat universal, yaitu
keindahan yang tak terikat oleh selera perorangan, waktu, tempat atau daerah
tertentu. Ia bersipat menyeluruh. Segala sesuatu yang mempunyai sifat indah
antara lain segala hasil seni, pemandangan alam, manusia dengan segala anggota
tubuhnya dan lain sebagainya
Keindahan
pada dasarnya adalah almiah.Alam itu ciptaan tuhan.Ini berarti bahwa keindahan
itu ciptan tuhan.Keindahan menyangkut kualita hakiki dari segala benda yang
mengandung kesatuan (unity),keselarasan
(harmony),kesetangkupan(symetri),keseimbangan(balance),dan
pertentangan(contrast).Dari cirri-ciri itu diambil kesimpulan,bahwa keindahan
tersusun dari keselarasan dan pertentangan dari garis,warna,bentuk,nada dan
kata-kata.
Manusia menikmati keindahan berarti
manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman keindahan biasanya
bersifat terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas
pada dua bidang tersebut. Batas keindahan akan behenti pada pada sesuatu yang
indah dan bukan pada keindahan itu sendiri. Keindahan mempunyai daya tarik
yang selalu bertambah , sedangkan yang tidak ada unsur keindahanya
tidak mempunyai daya tarik
Keindahan merupakan suatu persoalan
filsafati yang jawabannya beraneka ragam. Salah satu jawaban mencari ciri-ciri
umum yang ada pada semua benda yang dianggap indah dan kemudian menyamakan
ciri-ciri atau kwalita hakiki itu dengan pengertian keindahan. Jadi keindahan
pada dasarnya adalah sejumlah kwalita pokok tertentu yang terdapat pada suatu
hal.
DAFTAR PUSTAKA
Drs.
Joko Tri Prasetya, dkk, ”ILMU BUDAYA DASAR”, PT Asdi Mahasatya, JAKARTA,
2004

Tidak ada komentar:
Posting Komentar