Sabtu, 15 Maret 2014

Analisis Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat


Dampak internal yang muncul terhadap partai

Pelaksanaan konvensi justru malah merusak akibat menguatnya perseteruan internal di Partai Demokrat, melalui munculnya faksi-faksi hingga tingkat paling bawah, yang memberikan dukungan pada calon-calon peserta konvensi. Bagaimna pun dalam konversi capres partai demokrat bila tidak di sikapi secara berhati-hati, akan berpotensi memperlemahkan solidaritas partai nya sendiri, karena dalam kontek ini etika politik mereka akan di uji, apakah mereka akan tetap mengedepankan tugas-tugas mereka dalam jabatan-jabatannya itu demi kepentingan bangsa dan Negara ( yang lebih luas ), atau justru akan melalaikan demi kesuksesan dalam konvensi partai demokrat.

Perseteruan itu, dapat menghantarkan pada kehancuran Partai Demokrat, karena tidak lagi fokus memenangkan Pileg April 2014. Para kader fokus memenangkan Capres andalan mereka, dengan berbagai cara, termasuk saling membusukkan partai. Hal seperti ini, justru semakin memperumit internal Demokrat, yang awalnya hanya terjadi ditingkat atas, justru merambah ketingkat bawah. Dalam debat kenegaraan yang digelar di Surabaya, para kandidat dibagi menjadi dua kelompok yakni Garuda dan Rajawali.

Kelompok Garuda terdiri dari Anies Baswedan, Pramono Edhie Wibowo, Endriartono Sutarto, Sinyo Haris Sarundajang, Gita Wirjawan dan Haryono Isman. Sedangkan, kelompok Rajawali terdiri dari Marzuki Alie, Irman Gusman, Dino Patti Djalal, Dahlan Iskan serta Ali Masykur Musa. Kelompok Garuda beradu visi misi dengan kelompok Rajawali. Selama pelaksanaan debat tidak ada proses penilaian, serta tidak ada system gugur bagi yang debatnya kalah dibanding dengan kandidat lainnya.

Hal ini perlu ditekankan mengingat banyak di antara pihak yang diundang dalam Konvensi masih memegang jabatan di eksekutif dan legislatif, maupun di institusi lainnya. Sebagaimana diketahui, saat ini setidaknya ada empat pejabat publik yang disebut akan ikut konvensi. Mereka adalah Gita Wirjawan (menteri Perdagangan), Dahlan Iskan (menteri BUMN), Marzuki Alie (ketua DPR), dan Irman Gusman (ketua DPD). Bagi tokoh-tokoh yang diundang dan masih menjabat dalam posisi-posisi strategis dalam pemerintahan, etika jabatan harus tetap dikedepankan. Artinya, konvensi jangan sampai mengganggu kinerja institusi.  Tokoh-tokoh ini pun harus menghargai peraturan-peraturan di dalam Partai dari mana  mereka berasal, sebagai wujud implementasi etika politik yang lain.Jangan sampai terjadi pihak partai asal tidak mendapatkan  permintaan izin atau pemberitahuan dari tokoh-tokohnya yang diundang, karena ini  akan menjadi contoh pembelajaran politik  yang tidak baik bagi masyarakat.

Nantinya, penilaian dan pemenang konvensi ditentukan oleh hasil pemberitaan media massa serta hasil survey yang dilakukan tiga lembaga independen. Survei dilakukan dua kali, yang pertama sudah dilakukan dan kedua hasilnya akan diketahui usai Pemilu Legislatif, tepatnya pengumuman pemenang konvensi disampaikan Mei 2014. Konvensi di Surabaya kali ini merupakan yang ke empat, setelah Medan, Palembang, dan Bandung.

Dampak konversi calon presiden di masyarakat Indonesia

Pada debat peserta konvensi yang digelar di 11 kota, untuk mempopulerkan kepada public dan khusus nya rakyat Indonesia tokoh potensial dari Demokrat. Sasarannya dalam konvensi Partai Demokrat ini, Agar publik atau rakyat Indonesia mengetahui para peserta konvensi Capres di kota-kota di seluruh Indonesia.

Demi mendongkrak elektabilitas, Partai Demokrat besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menggelar debat para peserta konvensi Calon Presiden (Capres) di Kesebelas kota yang menjadi lokasi debat public ( Medan, Palembang, Bandung, Surabaya, Semarang, Balikpapan, Makassar, Manado, Banda Aceh, Padang dan Jayapura )  Ini penting dilakukan agar masyarakat tahu siapa Capres Partai Demokrat serta bagaimana visi dan misinya.

Bersamaan dengan debat publik di 11 kota tadi, akan dilakukan survei tahap kedua oleh tiga lembaga survei. Hasil survei tahap pertama dan kedua, akan diumumkan setelah Pemilu Legislatif, yakni sekitar akhir April 2014. Format debat publik, setiap peserta menyampaikan poin-poin visi dan misi.

Sumber analisis :







Tidak ada komentar:

Posting Komentar